Saturday, 4 November 2017

Menjadi guru adalah panggilan hidup!

Assalamualaikum Sahabat edukasinfo.net, selamat siang untuk semua dimanapun kalian berada. Apa jadinya seandainya di dunia ini, tidak ada seorang pun yang mau menjadi seorang guru. Ibarat Pohon setelah ditanam, tanpa di siram, tanpa di pupuk dan tanpa di rawat. Pasti gersang, dan walaupun Matahari selalu menyinarinya.
  

Kita bisa saja berguru kepada siapa saja, sesuai kebutuhan keilmuan yang kita harapkan. Bahkan berguru kepada hewan sekalipun. Asal jangan berguru dengan setan dan sahabatnya. Ingat Kisah Habil dan Kabil, dimana setelah kematian Habil Kabil merasa kebingungan untuk memperlakukan mayat saudaranya. Tiba-tiba seekor burung yang menggali tanah untuk memasukkan burung yang lain yang telah mati ke dalam tanah. Dari situlah Kabil bisa mengubur saudaranya itu, walau sebenarnya perbuatan Kabil ini tidak baik. Namun itulah alam sekitar kita pun bisa menjadi guru.  Firman Allah di dalam Surat Al-Alaq ayat 1, yang memerintahkan kita untuk membaca,  "Iqro Bismirobbikalladzi Kholaq" artinya Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan". Kita diperintahkan untuk membaca kebesaran Allah, layaknya kita harus berguru dengan seluruh hasil karya cipta-Nya.

Nabi Muhammad Saw diutus untuk menyampaikan perintah Allah kepada seluruh umat manusia, dengan cara pengajaran langsung atau pun tak langsung. Artinya Rosulullah pun berperan sebagai guru bagi sahabat-sahabat di kala itu. 

Sahabat, lalu apa maksud guru sebagai panggilan hidup? Kali ini saya akan mengupas ungkapan dari seorang tokoh Barat yaitu Hansen di dalam bukunya The call to teach (1995), mengungkapkan kriteria suatu panggilan hidup. Munurut Hansen ada 2 segi dalam panggilan, yaitu pekerjaan itu membantu mengembangkan orang lain (ada unsur sosial) dan pekerjaan itu juga mengembangkan dan memenuhi diri kita sebagai pribadi.

Unsur pertama bahwa guru sebagai panggilan hidup karena pekerjaan seorang guru berusaha untuk mengembangkan orang lain menuju ke arah yang lebih baik, kesempurnaan dan kepenuhan. Disini ada unsur pelayanan dan ada juga unsur sosial. Sehingga sejalan dengan perintah Allah untuk hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas) . 

Hal ini buka dalam bidang pekerjaan guru saja, Dokter, Polisi, Abdi Masyarakat dan lain-lain pun bisa menjadi pelayan dan juga bersifat sosial. Oleh sebab itu, pekerjaan yang melayani orang lain menuju kebaikan dan kesempurnaan itu merupakan panggilan hidup bagi guru, dokter, polisi, tentara, perawat, penyuluh pertanian, dan lain-lain. Mungkin kita tak sadar ketika kita mampu memberikan pelayanan terbaik kita, membantu orang lain yang kesulitan yang sebenarnya kita sendiri telah membuat diri kita sendiri yang bahagia, jika pekerjaan itu kita lakukan dengan ikhlas. Banyak teman-teman guru sewaktu di perkuliahan sulit menangkap mata kuliah dengan baik, namun setelah menjadi guru dengan mudah ia mengerti bahan yang sama ketika kuliah dan mengerti lebih mendalam.


Seorang guru sebenarnya dituntut untuk menjadi Super heronya anak-anak didik.  Dimana jika anak-anak murid melihat gurunya "hebat" mereka akan bangga dengan guru tersebut. Sama halnya ketika anak-anak di dalam keluarganya di rumah, mereka pasti berharap orang tua mereka bisa berperan sebagai  "super daddy" dan "super mom".  

Sahabat, kekayaan yang diperoleh seorang guru secara objektif adalah jika mendapatkan siswa yang begitu banyak secara langsung hidup mereka dipengaruhi oleh nilai guru tersebut. oleh sebab itu hidup mereka dipengaruhi dan dikembangkan oleh guru tersebut, cukup banyak dari mereka yang cukup mengenal dan mengingat jasa guru setelah mereka itu menjadi manusia dewasa. Boleh jadi kesejahteraan itu sangat dibutuhkan oleh seorang guru, namun di atas semua itu ada beban tanggung jawab yang harus kita pikul dipundak guru agar anak-anak didiknya menjadi manusia  yang bermanfaat bagi orang lain, bahkan agar mereka semua menjadi manusia yang taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cukup jelas bahwa kekayaan guru bukan karena "uang" namun mendapatkan "pengenalan nama" dari mantan murid nya adalah kekayaan yang menjadikan batin seorang guru menjadi lega dan bahagia dalam hidupnya.

Seorang tokoh ulama yakni KH. Maemun Zubair, berpesan kepada kita guru bahwa  "Jadi guru tidak "usah" punya niat bikin pintar anak. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting "Niat" menyampaikan Ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar  atau tidak , serahkan pada Allah SWT.     Didoakan saja terus agar muridnya mendapat Hidayah".

" Yang paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tanganmu ke surga".

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan bagi sahabat sekalian.  Silahkan berikan masukan jika ada keliru itu dari admin sebagai manusia biasa.

Sumber: Nasehat KH. Makmun Zubair, Tulisan Paul Suparno (Guru demokrasi di era reformasi, terbitan Gramedia)

NATA ANTORIUS

About NATA ANTORIUS

My name is Nata, I write this blog is to provide information about primary and secondary education. I am a teacher at a Elemantary School.